PSG 2b ‘08

WawancaraPenilaian konsumsi dapat dikelompokkan atas penilaian secara indivisual. Dipandang dari sisi teknik jga dapatdilakukan dengan berbagai macam metode. Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Sem Quantitative Food Frequency, disamping dapat menghitung kebiasaan makan berupa jenis dan frekuensi konsumsi pangan menurut penglompokkan yang ada (makanan pokok, sumber protein hewani, nabati, sayur dan buah) juga dapat dikalkulasi kebiasaan intake dengan menanyakan besar porsi setiap kali makan.

Posi sekali makan disesuaikan dengan kebiasaan, bukan pada waktu makan tertentu. Posi makan sangat dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin responden. Pada prinsipnya frekuensi makan memiliki pngertian hari makan dalam jangka waktu tertent. Jangka waktu yang dipakai disini adalah bulanana. Dalam pelaksanaan wawancara waktu makan disesuakan dengan pola makan suatu daerah dan kelompok pangan itu sendiri. Misalnya : Makan nasi harus ditanyakan berapa kali makan sehari, leh karena nasi adalah makanan utama di Minang misanya dan daerah lain yang serupa. AKan tetapi kalau ingin menanyakan frekuensi konsumsi daging, pertaanyaan diajukan bukan dalam harian mungkin mingguan atau bulanan.

Untuk keluarga berada bisa ditanyakan dalam mingguan tapi untuk keluarga biasa-biasa saja dapat ditanyakan dalam sebuan berapa kali makan daging atau bahkan mungkin ditanyakan dam setahun. (sangat tergantung kepada kondisi responden). Pada praktek kali ini ujicoba dilakukan terhadap teman sendiri sebeum terjun ke masyarakat responden yang sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan