Posted on September 4, 2008 by top1hit4m

Klik Gambar di atas, Lakukan registrasi (sig Up), Ingat username dan password yang digunakan. Kemudian Andaakan mendapatkan URL (alat situs) dengan Nomor Registrasi Anda di belakangnya. Catat alamat tersebut dan berikan ke teman-teman Anda. Setiap mereka melakukan registrasi Anda aan mendaptkan Bonus. Semuanya Grats, coba aja kalo ragu, ga bayar kok….!
DIarsipkan di bawah: Buku, Download, FFQ, Refferensi, Sottware, TB, Tinjauan, Tools-web | Ditandai: Iklan | Leave a Comment »
Posted on Agustus 10, 2008 by top1hit4m
Penilaian konsumsi dapat dikelompokkan atas penilaian secara indivisual. Dipandang dari sisi teknik jga dapatdilakukan dengan berbagai macam metode. Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Sem Quantitative Food Frequency, disamping dapat menghitung kebiasaan makan berupa jenis dan frekuensi konsumsi pangan menurut penglompokkan yang ada (makanan pokok, sumber protein hewani, nabati, sayur dan buah) juga dapat dikalkulasi kebiasaan intake dengan menanyakan besar porsi setiap kali makan.
Posi sekali makan disesuaikan dengan kebiasaan, bukan pada waktu makan tertentu. Posi makan sangat dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin responden. Pada prinsipnya frekuensi makan memiliki pngertian hari makan dalam jangka waktu tertent. Jangka waktu yang dipakai disini adalah bulanana. Dalam pelaksanaan wawancara waktu makan disesuakan dengan pola makan suatu daerah dan kelompok pangan itu sendiri. Misalnya : Makan nasi harus ditanyakan berapa kali makan sehari, leh karena nasi adalah makanan utama di Minang misanya dan daerah lain yang serupa. AKan tetapi kalau ingin menanyakan frekuensi konsumsi daging, pertaanyaan diajukan bukan dalam harian mungkin mingguan atau bulanan.

Untuk keluarga berada bisa ditanyakan dalam mingguan tapi untuk keluarga biasa-biasa saja dapat ditanyakan dalam sebuan berapa kali makan daging atau bahkan mungkin ditanyakan dam setahun. (sangat tergantung kepada kondisi responden). Pada praktek kali ini ujicoba dilakukan terhadap teman sendiri sebeum terjun ke masyarakat responden yang sesungguhnya.
DIarsipkan di bawah: FFQ, Refferensi | Leave a Comment »
Posted on Agustus 10, 2008 by top1hit4m
Penukuran tinggi badan bermaksud untuk menjadikanya sebagai bahan menentukan status gizi.Status gizi yang ditentukan dengan tinggi badan tergolong untuk mengukur pertumbuhan linier. Pertumbuhan linier adalah pertumbuhan tulang rangka, terutama rangka extrimitas (tungai dna lengan). Untuk tinggi badan peranan tungkai yang dominan.
Pengukuran tinggu badan orang dewasa, atau yang sudah bisa berdiri digunakan alat microtoise (baca: mikrotoa) dengan skala maksimal 2 meter dengan ketelitian 0,1 cm. Apabila tidak tersedia mikrotoise dapat digunakan pita fibreglas (pita tukang jahit pakaian) dengan bantuan papan data dan tegak lurus dengan lantai. Pengukuran dengan pita fibreglass seperti ini harus menggukan alat bantu siku-siku.
Persyaratan tempat pemasangan alat adalah didinding harus datar dan rata dan tegak lurus dengan lantai. Dinding yang memiliki banduk di bagian bawah (bisanya pada lantai keramik) tidak bisa digunakan. Hal yang harus diperhatikan saat pemasangan mikrotoise adalah saat sudah terpasang dan direntang maksimal ke lantai harus terbaca pada skala 0 cm.
Cara Pengukuran :
Berdiri membelakangi dinding dimana microtoie terpasang dengan posisi siap santai (bukan siap miiter), tangan disamping badan terkulai lemas, tumit, betis, pantat, tulang belikat dan kepala menempeldi dinding. Pandangan lurus ke depan. Sebagai pegukur harus diperiksa ketentuan ini sebelum membaca hasil pengukuran. Tarik microtiose ke bawah sampai menempel ke kepala. Bagi terukur yang berjilbab agak sedikit ditekan agar pengaruh jilbab bisa diminimalisir. Untuk terukur yang memakai sanggul harus ditanggalkan lebih dahulu atau digeser ke bagia kiri kepala.
Saat pengkuran, sandal, dan topi harus dilepas. Baca hasil ukur pada posisi tegak lurus dengan mata (sudut pandang mata dan skala microtoise harus sudut 90 derajat). Pada gambar di atas, apabila terukur lebuh tinggi dai Pengukur, maka pengukur harus menggunakan alat peningi agar posisi baca tegak lurus. Bacaan pada ketelitian 0,1 cm, artinya apabilatinggi terukur 160 cm, harus ditulis 160,0 cm (koma nol harus ditulis).
DIarsipkan di bawah: Refferensi, TB | Leave a Comment »
Posted on Agustus 7, 2008 by top1hit4m
Posted on Agustus 5, 2008 by top1hit4m